Kamis, 10 Mei 2012

SUKHOI MENELAN KORBAN





Semuanya terjadi begitu saja, pagi tadi (10/05/2012) dinyatakan bahwa pesawat buatan Rusia ini dilansir hancur menabrak lereng dinding gunung salak. Dari evakuasi Tim SAR dengan Helikopter Super puma TNI AU oleh pilot Mayor Pnb Levi dari Lanud Atang Sanjaya telah dikatakan bahwa itu adalah puing-puing pesawat sukhoi superjet 100 yang ditumpangi kurang lebih oleh 50 orang penumpang yang diantaranya yaitu 39 orang penumpang biasa dan 8 awak kabin hari Rabu kemarin (09/05/2012).

Hilangnya kontak saat pesawat yang sedang “demo flight” oleh pihak Angkasa Pura II tersebut dikatakan berdasarkan informasi dari Harry Cahyono, pesawat itu berangkat dari Halim Perdanakusumah pada Rabu pukul 14.21 WIB dan kemudian terbang ke kawasan Bogor pada ketinggian 10.000 kaki, lalu kemudian turun ke ketinggian 6.000 kaki.
Selanjutnya, ujar dia, pilot dari pesawat tersebut meminta untuk memutar ke kanan dan kemudian menghilang dari pantauan radar pada pukul 14.33 WIB.
"Komunikasi radio pun terputus," katanya.

Tim SAR hari ini telah mempersiapkan beberapa hal untuk mulai pengevakuasian di tempat kejadian, namun tempat jangkauan pesawat jatuh terlalu jauh dan dilansir belum pernah terjamah oleh manusia. Para kerabat keluarga korban telah diberikan indikasi dan pengecekan status kekerabatannya oleh beberapa Ahli medis UI untuk diperiksa, agar pada saat pengecekan korban bisa ditangani dengan baik dan cepat.

Selasa, 08 Mei 2012

VITAMIN,MINERAL DAN NUTRISI PARENTERAL


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Vitamin Larut Air
            Dalam penggolongannya vitamin dibagi menjadi 2 golongan, yaitu vitamin yang larut pada air dan vitamin yang larut pada lemak. Vitamin- vitamin yang larut dalam air diantaranya : vitamin B dan C, sedangkan vitamin yang larut dalam lemak yaitu : Vitamin A, D, E, dan K.
            Vitamin B kompleks mencakup sejumlah vitamin dengan rumus kimia dan efek biologik yang sangat berbeda yang digolongkan bersama karena dapat diperoleh dari sumber yang sama, antara lain hati dan ragi. Yang termasuk dalm golongan ini ialah : Tiamin (Vitamin B1), Riboflavin (Vitamin B2), asam nikotinat (niasin), piridoksin (Vitamin B6), asam pantotenat, biotin, kolin, inositol, asam-para-amino benzoat, asam folat dan sianokobalamin (Vitamin B12). Vitamin C (asam askorbat) terutama didapatkan pada buah jeruk.
2.1.1 Vitamin B
A. Tiamin (B1)
            Sumber yang mengandung tiamin yaitu pada padi-padian, roti, sereal, daging dan produk olahannya, ginjal, hati, makanan laut (kerang, kepiting, ikan dan lain-lain), unggas, telur, tempe dan susu. Manfaatnya mendorong nafsu makan, berperan dalam sistem saraf dan otot, selain menjaga tingkat kesehatan dan memproduksi energi. Bila kekurangan: rentan terserang beri-beri, mengalami penurunan daya tahan tubuh hingga mudah terancam berbagai penyakit infeksi. Bila kelebihan: jarang terjadi dan kalaupun kelebihan, vitamin ini akan dibuang keluar tubuh bersama urin. Namun, jika terjadi “kesalahan prosedur” hingga tak bisa dibuang, kemungkinannya akan terjadi gagal ginjal.
            B. Riboflavin (B2)
            Riboflavin terdapat pada makanan jamur, brokoli, kacang almon,susu, keju, telur, serta yoghurt. Manfaat Riboflavin sendiri yaitu : memperbaiki kulit, mata, dan membantu produksi energi. Bila kekurangan vitamin ini kepekaan terhadap cahaya berkurang, sudut bibir pecah-pecah, muncul gangguan kulit di sekitar hidung dan bibir.
C. Niasin (B3)
            Sumber yang mengandung Niasin diantaranya : sereal, beras, susu, sayur,kacang-kacangan, maupun produk olahan nabati dan hewani. Manfaat Niasin yaitu : menetralisir zat racun dan berperan dalam sintesa lemak, meningkatkan nafsu makan, membantu sistem pencernaan, memperbaiki kulit dan saraf. Bila kekurangan: kulit gampang rusak, lidah jadi licin, mudah terserang diare, jadi temperamental (mudah marah), atau sering bingung. Bila kelebihan: jarang terjadi, sama seperti vitamin B lainnya.
D. Piridoksin (B6)
            Sumber yang mengandung Pridoksin diantaranya: ikan, daging, telur, susu, hati, padi-padian, kacang merah dan polong-polongan. Manfaat Pridoksin yaitu membantu metabolisme protein, membantu pembentukan antibodi dan saraf, mengatur penggunaan protein, lemak, karbohidrat, disamping berperan dalam regenerasi/pembaruan sel darah merah. Bila kekurangan: kulit rusak, dermatitis, sudut bibir pecah-pecah, lidah licin, sariawan, mual, pening, anemia, muncul batu ginjal, letih, lemah, lesu, nafsu makan turun, rentan terhadap infeksi dan kejang-kejang, rasa sakit pada pergelangan tangan, gampang depresi. Bila kelebihan: meski jarang terjadi, dalam jangka panjang dapat menimbulkan kerusakan saraf.
E. Kobalamin (B12)
            Sumber yang mengandung Kobalamin yaitu daging beserta produk olahannya, ginjal, hati, kerang, ketam, kepiting, ikan (salmon dan tuna), ragam makanan laut lainnya, unggas, telur, susu dan produk olahannya, produk fermentasi kedelai (tauco dan tempe yang diolah secara tradisional), susu kedelai yang diperkaya dengan vitamin dan mineral, sereal. Manfaatnya membantu pembentukan sel darah merah, mengatur sistem saraf, berperan dalam sintesa DNA yang mengontrol pembentukan sel-sel baru, mencegah kerusakan sistem saraf, meningkatkan nafsu makan, mencegah anemia, menjaga kesehatan jantung dan kekebalan tubuh, berperan dalam metabolisme protein, memicu produksi hormon untuk kesehatan kulit dan rambut. Bila kekurangan: dapat mengganggu sistem saraf, menurunkan daya ingat, mudah bingung dan murung, gampang mengalami delusi (berkhayal), lelah, hilang keseimbangan, refleks menurun, mati rasa, menimbulkan gangguan pendengaran, menyebabkan gejala anemia yang meliputi kelelahan, hilang nafsu makan, diare, menimbulkan gangguan pembentukan sel saraf, mengakibatkan kerusakan sistem saraf. Bila kelebihan: sama seperti vitamin B lainnya, jarang terjadi.

2.1.1 Vitamin C
Vitamin C atau asam askorbat merupakan vitamin yang larut dalam air. Vitamin C bekerja sebagai suatu koenzim dan pada keadaan tertentu merupakan reduktor dan antioksidan. Vitamin ini dapat secara langsung atau tidak langsung memberikan elektron ke enzim yang membutuhkan ion-ion logam tereduksi dan bekerja sebagai kofaktor untuk prolil dan lisil hidroksilase dalam biosintesis kolagen. Zat ini berbentuk kristal dan bubuk putih kekuningan, stabil pada keadaan kering (Dewoto 2007). Vitamin ini dapat ditemukan di buah citrus, tomat, sayuran berwarna hijau, dan kentang. vitamin ini digunakan dalam metabolisme karbohidrat dan sintesis protein, lipid, dan kolagen. Vitamin C juga dibutuhkan oleh endotel kapiler dan perbaikan jaringan. vitamin C bermanfaat dalam absorpsi zat besi dan metabolisme asam folat. Tidak seperti vitamin yang larut lemak, vitamin C tidak disimpan dalam tubuh dan diekskresikan di urine. Namun, serum level vitamin C yang tinggi merupakan hasil dari dosis yang berlebihan dan diekskresi tanpa mengubah apapun(Kamiensky, Keogh 2006). Kebutuhan vitamin C berdasarkan U.S. RDA antara lain untuk pria dan wanita sebanyak 60 mg/hari, bayi sebanyak 35 mg/hari, ibu hamil sebanyak 70 mg/hari, dan ibu menyusui sebanyak 95 mg/hari. Kebutuhan vitamin C meningkat 300-500% pada penyakit infeksi, TB, tukak peptik, penyakit neoplasma, pasca bedah atau trauma, hipertiroid, kehamilan, dan laktasi (Kamiensky, Keogh 2006).
2.1.1.1 Farmakodinamik Obat
Vitamin C berperan sebagai kofaktor dalam sejumlah reaksi hidroksilasi dan amidasi dengan memindahkan electron ke enzim yang ion logamnya harus berada dalam keadaan tereduksi; dan dalam keadaan tertentu bersifat sebagai antioksidan. Vitamin C dibutuhkan untuk mempercepat perubahan residu prolin dan lisin pada prokolagen menjadi hidroksiprolin dan hidroksilisin pada sintesis kolagen. Perubahan asam folat menjadi asam folinat, metabolisme obat oleh mikrosom dan hidroksilasi dopamine menjadi norepinefrin juga membutuhkan vitamin C. Asam askorbat meningkatkkan aktivitas enzim amidase yang berperan dalam pembentukan hormon oksitosin dan hormon diuretik. Vitamin C juga meningkatkan absorpsi besi dengan mereduksi ion feri menjadi fero di lambung.Peran vitamin C juga didapatkan dalam pembentukan steroid adrenal (Kamiensky, Keogh 2006; Dewoto 2007). Fungsi utama vitamin C pada jaringan adalah dalam sintesis kolagen, proteoglikan zat organik matriks antarsel lain misalnya pada tulang, gigi, dan endotel kapiler. Peran vitamin C dalam sintesis kolagen selain pada hidroksilasi prolin juga berperan pada stimulasi langsung sintesis peptide kolagen. Gangguan sintesis kolagen terjadi pada pasien skorbut. Hal ini tampak pada kesulitan dalam penyembuhan luka, gangguan pembentukan gigi, dan pecahnya kapiler yang mengakibatkan petechiae dan echimosis. Perdarahan tersebut disebabkan oleh kebocoran kapiler akibat adhesi sel-sel endotel yang kurang baik dan mungkin juga karena gangguan pada jaringan ikat perikapiler sehingga kapiler mudah pecah oleh penekanan (Kamiensky, Keogh 2006; Dewoto 2007). Pemberian vitamin C pada keadaan normal tidak menunjukkan efek farmakodinamik yang jelas. Namun pada keadaan defisiensi, pemberian vitamin C akan menghilangkan gejala penyakit dengan cepat.
2.1.1.2 Farmakokinetik Obat
Vitamin C mudah diabsorpsi melalui saluran cerna.pada keadaan normal tampak kenaikan kadar vitamin C dalam darah setelah diabsorpsi. Kadar dalam lekosit dan trombosit lebih besar daripada dalam plasma dan eritrosit. Distribusinya luas ke seluruh tubuh dengan kadar tertinggi dalam kelenjar dan terendah dalam otot dan jaringan lemak. Ekskresi melalui urin dalam bentuk utuh dan bentuk garam sulfatnya terjadi jika kadar dalam darah melewati ambang rangsang ginjal yaitu 1,4 mg% (Dewoto 2007). Beberapa obat diduga dapat mempercepat ekskresi vitamin C misalnya tetrasiklin, fenobarbital, dan salisilat. Vitamin C dosis besar dapat memberikan hasil false negative pada uji glikosuria (enzymedip test) dan uji adanya darah pada feses pasien karsinoma kolon. Hasil false positive dapat terjadi pada clinitest dan tes glikosuria dengan larutan Benedict.
2.1.1.3 Indikasi
Vitamin C diindikasikan untuk pencegahan dan pengobatan skorbut. Selain itu, vitamin C juga digunakan untuk berbagai penyakit yang tidak ada hubungannya dengan defisiensi vitamin C dan seringkali digunakan dengan dosis besar. Namun, efektivitasnya belum terbukti. Vitamin C yang mempunyai sifat reduktor digunakan untuk mengatasi methemoglobinemia idiopatik meskipun kurang efektif dibandingakan dengan metilen blue. Vitamin C tidak mengurangi insidens common cold tetapi dapat mengurangi berat sakit dan lama masa sakit (Dewoto 2007).
2.1.1.4 Posologi
Vitamin C terdapat dalam berbagai preparat baik dalam bentuk tablet yang mengandung 50-1500 mg maupun dalam bentuk larutan. Kebanyakan sediaan multivitamin mengandung vitamin C. Sediaan suntik mengandung vitamin C sebanyak 100-500 mg dalam larutan. Air jeruk mengandung vitamin C yang tinggi sehingga dapat digunakan untuk terapi menggantikan sediaan vitamin C (Kamiensky, Keogh 2006; Dewoto 2007). Kalsium askorbat dan natrium askorbat didapatkan dalam bentuk tablet dan bubuk unutk penggunaan per oral.

2.2     Vitamin Larut Lemak
Vitamin larut lemak (Vitamin A, D, E dan K) diabsorpsi dengan cara yang kompleks dan sejalan dengan absospsi lemak. Dengan demikian keadaan-keadaan yang menyebabkan gangguan absorpsi lemak seperti defisiensi asam empedu, ikterus dan enteritis dapat mengakibatkan defisiensi satu atau mungkin semua vitamin golongan ini. Vitamin larut lemak mempengaruhi permeabilitas atau transport pada berbagai membran sel dan bekerja sebagai oksidator atau reduktor, koenzim atau inhibitor enzim. Vitamin A dan D mempunyai aktivitas mirip hormon. Vitamin-vitamin ini disimpan terutama di hati dan diekskresi melalui feses. Karena metabolismenya sangat lambat, dosis yang berlebihan dapat menimbulkan efek toksik.
2.2.1       Vitamin A
Vitamin A merupakan salah satu jenis vitamin yang larut lemak. Vitamin A (Acon, Aquasol) membantu menjaga pertumbuhan jaringan epitel, mata, rambut, dan tulang. Selain itu juga digunakan untuk pengobatan kelainan kulit seperti acne. Vitamin mempunyai efek toksik jika digunakan secara berlebihan. Contohnya, defek lahir dapat terjadi jika pasien mengkonsumsi lebih dari 6000 IU selama kehamilan. Hal ini penting untuk diingat bahwa vitamin disimpan di liver sampai lebih dari dua tahun, dimana dapat mengakibatkan toksisitas jika pasien mengkonsumsi dengan dosis yang besar (Kamiensky, Keogh 2006). Vitamin A didapat dalam 2 bentuk yaitu preformed vitamin A (vitamin A, retinoid, retinol, dan derivatnya) dan provitamin A (karotenoid/ karoten dan senyawa sejenis) (Dewoto 2007). Sumber makanan yang mengandung vitamin A antara lain semua jenis susu, mentega, telur, sayuran dengan daun berwarna hijau dan kuning, buah-buahan, dan liver. Menurut U.S Recommended Dietary Allowance (RDA) kebutuhan vitamin A pada pria dewasa sebanyak 1000 µg atau 5000 IU, wanita dewasa 800 µg atau 4000 IU, pada kehamilan membutuhkan sebanyak 1000 µg atau 5000 IU, dan pada ibu menyusui 1200 µg atau setara dengan 6000 IU (Kamiensky, Keogh 2006).
2.2.1.1 Farmakodinamik Obat
Pada fibroblast atau jaringan epitel terisolasi, retinoid dapat meningkatkan sintesis beberapa jenis protein seperti fibronektin dan mengurangi sintesis protein seperti kolagenase dan keratin. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan transkripsi pada inti dan asam retinoat lebih kuat dalam menyebabkan perubahan tersebut. Asam retinoat mempengaruhi ekspresi gen dengan bergabung pada reseptor yang berada di inti sel. Terdapat dua kelompok reseptor, yaitu Retinoid Acid Receptors (RARs) dan Retinoid X Receptors (RXRs). Reseptor retinoid segolongan dengan reseptor steroid, hormone tiroid, dan kalsitriol (Dewoto 2007). Retinoid dapat mempengaruhi ekspresi reseptor hormon dan faktor pertumbuhan sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan, diferensiasi, dan fungsi sel target. Selain itu juga diperlukan untuk pertumbuhan tulang, alat reproduksi, dan perkembangan embrio (Dewoto 2007).
2.2.1.2 Farmakokinetik Obat
Vitamin ini diabsorpsi sempurna melalui usus halus dan kadarnya dalam plasma mencapai puncak setelah empat jam tetapi absorpsi dosis besar vitamin A kurang efisien karena sebagian akan keluar melalui feses. Gangguan absorpsi lemak akan menyebabkan gangguan absorpsi vitamin A, maka pada keadaan ini dapat digunakan sediaan vitamin A yang larut dalam air. Absorpsi vitamin A berkurang bila diet kurang mengandung protein atau pada penyakit infeksi tertentu dan pada penyakit hati seperti hepatitis, sirosis hepatis atau obstruksi biliaris. Berkurangnya absorpsi vitamin A pada penyakit hati berbanding lurus dengan derajat insufisiensi hati (Dewoto 2007).
2.2.1.3 Indikasi
            Vitamin A diindikasikan untuk pencegahan dan pengobatan defisiensi vitamin A.
2.2.1.4 Posologi
            Jenis sediaan untuk vitamin A antara lain oral, suntikan, dan topical. Penggunaan oral terdapat bentuk tablet, kapsul, atau larutan/sirup. Sediaan vitamin A dalam larutan air paling cepat diabsorpsi dan memberikan kadar plasma lebih tinggi dibandingkan sediaan minyak. Vitamin A kapsul mengandung 3-15 mg retinol (10.000-15.000 IU) per kapsul. Sediaan suntikan dalam bentuk larutan mengandung 50.000 IU vitamin A/ml dapat diberikan secara IM untuk pasien malabsorpsi, mual, muntah, dan gangguan mata berat. Dosis lebih dari 25.000 IU/hari hanya dapat diberikan pada pasien defisiensi berat. Penggunaan oral lebih baik daripada parenteral (Dewoto 2007).

2.2.2       Vitamin D
Vitamin D adalah senyawa yang larut dalam lemak, terbukti berguna untuk mencegah dan mengobati rakhitis yaitu penyakit yang banyak terdapat pada anak, terutama di daerah yang kurang mendapat sinar matahari. Pada tahun 1920 Mellanby dan Huldschinksy mendapatkan bahwa rakitis apat dicegah ataupun diobati dengan minyak ikan atau sinar matahari yang cukup. Ternyata sterol yang terdapat pda hewan ataupun tumbuh-tumbuhan merupakan provitamin D yang dengan penyinaran ultraviolet akan diubah menjadi vitamin D.
Provitamin yang terutama didapatkan pada jaringan hewan, ialah 7-dehidrokolesterol yang akan diubah menajadi vitamin D3 (kolekalsiferol). Provitamin D yang terdapat pada ragi dan jamur ialah ergosterol yang akan diubah menjadi vitamin D2 (kalsiferol). Selain itu, 7-dehidrokolesterol juga disintesis pada kulit. Potensi vitamin D2 dan D3 pada manusia praktis tiddak berbeda.
2.2.2.1  Farmakodinamik Obat
Vitamin D mempunyai 2 fungsi fisiologi sebagai pengatur homeostatik kalsium plasma. Pengaturan ini diperlukan untuk mempertahankan kadar kalsium dan fosfat plasma yang penting untuk mineralisasi tulang dan untuk mempertahankan fungsi normal neuromuskular serta fungsi lain yang bergantung pada kalsium.
Vitamin D berefek meningkatkan absorpsi kalsium dan fosfat melalui usus halus, sehingga menjamin kebutuhan kalsium dan fosfat yang cukup untuk tulang. Selain itu, vitamin D memperlihatkan efek mobilisasi kalsium tulan dari tulang tua ke dalam plasma  (resorpsi tulang) untuk selanjutnya mungkin digunakan pada ineralisasi tulang baru.
2.2.2.2  Farmakokinetik Obat
Absorbsi vitamin D melalui saluran cerna cukup baik. Vitamin D3 diabsorpsi lebih cepat dan lebih sempurna. Gangguan fungsi hati, kandung empedu dan saluran cerna seperti steatore akan mengganggu absorpsi vitamin D. Dalam sirkulasi vitamin D diikat oleh α- globulin yang khusus dan selanjutnya disimpan pada lemak tubuh untuk waktu lama dengan masa paruh 19-25 jam.
Ekskresi vitamin D terutama melalui empedu dan dalam jumlah kecil ditemukan dalam urin. Pada pasien yang mendapat antikonvulasi misalnya fenitoin dan fenobarbital untuk jangka lama didapatkan insidens rakitis dan osteoamalasia yang tinggi meskipun kadar 1,25 DHCC pada pasien yang mengalaminya tetap normal. Selanjutnya beberapa peneliti mendapatkan bahwa terapi antikonvulsi enyebabkan target organ menjadi lebih resisten terhadap vitamin D sehingga absorbsi kalsium melalui usus halus dan resorpsi tulang berkurang. Hal inilah yang menjadi penyebab terjadinya rakitis dan osteomalasia pada pasien.
2.2.2.3  Indikasi
Vitamin D untuk pencegahan dan pengobatan rakitis, selain itu vitamin D juga digunakan untuk osteomalasia, hipoparatiroidisme, dan tetani infatil, dan untuk keadaan lain dengan alasan penggunaan yang belum atau tidak iketahui miasalnya pada psoriasis, artritis dan hay-fever. Vitamin D juga digunakan untuk hipofosfatemia pada pasien sindrom fanconi dan pasien osteoporosis. Pemberian dosis besar vitamin D untuk pasien osteoporosis masih diragukan dan hasilnya dapat berbahaya.
2.2.2.4  Posologi
Vitamin D terdapat dalam beberapa macam bentuk sediaan, misalnya dalam minyak ikan yang biasanya juga mengandung vitamin A, dan sediaan multivitamin, dalam sediaan yang mengandung campuran dengan kalsium dan sediaan yang hanya mengandung vitamin saja.

2.2.3       Vitamin E
Vitamin E adalah vitamin yang larut dalam lemak dan dapat melindungi jantung, arteri, dan komponen selular untuk tetap melakukan oksidasi dan mencegah lisis sel darah merah. Jika terdapat ketidakseimbangan garam, sekresi pancreas, dan lemak, vitamin E diabsorpsi di saluran pencernaan dan disimpan di seluruh jaringan, terutama liver, otot, dan jaringan lemak. Tujuh puluh lima persen dari jumlah vitamin E diekskresi di empedu dan sisanya melalui urin (Kamiensky, Keogh 2006). Delapan jenis tokoferol alam mempunyai aktivias vitamin E. RRR-α-tokoferol (dahulu disebut d-α-tokoferol) merupakan bentuk paling penting karena merupakan 90% dari tokoferol yang berasal dari hewan dengan aktivitas biologik paling besar (Dewoto 2007). Sumber makanan yang banyak mengandung vitamin E antara lain sereal gandum utuh, minyak sayuran, daun bawang, biji bunga matahari. Kebutuhan vitamin E per hari menurut U.S RDA yaitu pada pria sebanyak 10 mg/hari; 15 IU, wanita sebanyak 8 mg/hari; 12 IU, pada kehamilan dibutuhkan sebanyak 10-12 mg/hari. Kebutuhan vitamin A pada orang Indonesia belum diketahui akan tetapi diperkirakan sama dengan rekomendasi U.S RDA (Kamiensky, Keogh 2006; Dewoto 2007).
2.2.3.1 Farmakodinamik Obat
Vitamin E berperan sebagai antioksidan dan dapat melindungi kerusakan membrane biologis akibat radikal bebas. Vitamin E melindungi asam lemak tak jenuh pada membrane fosfolipid. Radikal peroksil bereaksi 1000 kali lebih cepat dengan vitamin E daripada dengan asam lemak tak jenuh dan membentuk radikal tokoferoksil. Radikal ini selanjutnya berinteraksi dengan antioksidan yang lain seperti vitamin C yang akan membentuk kembali tokoferol. Vitamin E juga penting untuk melindungi membrane sel darah merah yang kaya asam lemak tak jenuh ganda dari kerusakan akibat oksidasi. Vitamin ini berperan dalam melindungi lipoprotein dari LDL teroksidasi dalam sirkulasi. LDL teroksidasi ini memegang peranan penting dalam menyebabkan aterosklerosis. Selain efek antioksidan, vitamin E juga berperan mengatur proliferasi sel otot polos pembuluh darah, menyebabkan vasodilatasi dan menghambat baik aktivasi trombosit maupun adhesi lekosit. Vitamin E juga melindungi β-karoten dari oksidasi (Dewoto 2007).
2.2.3.2 Farmakokinetik Obat
Vitamin E diabsorpsi baik melalui saluran pencernaan. Beta-lipoprotein mengikat vitamin E dalam darah dan mendistribusikan ke semua jaringan. Kadar plasma sangat bervariasi diantara individu normal, dan berfluktuasi tergantung kadar lipid. Rasio vitamin E terhadap lipid total dalam plasma digunakan untuk memperkirakan status vitamin E. Nilai di bawah 0,8 mg/g menunjukkan keadaan defisiensi. Pada umumnya kadar tokoferol plasma lebih berhubungan dengan asupan dan gangguan absorpsi lemak pada usus halus daripada ada tidaknya penyakit. Vitamin E sukar melalui sawar plasenta sehingga bayi baru lahir hanya mempunyai kadar tokoferol plasma kurang lebih seperlima dari kadar tokoferol plasma ibunya. ASI mengandung α-tokoferol yang cukup bagi bayi. Ekskresi vitamin sebagian besar dilakukan dalam empedu secara lambat dan sisanya diekskresi melalui urin sebagai glukoronida dari asam tokoferonat atau metabolit lain (Kamiensky, Keogh 2006; Dewoto 2007).
2.2.3.3 Indikasi
Pemberian vitamin E hanya diindikasikan pada keadaan defisiensi yang dapat terlihat sari kadar serum yang rendah dan atau peningkatan fragilitas eritrosit terhadap hydrogen peroksida. Hal ini dapat terjadi pada bayi premature, pada pasien dengan sindrom malabsorpsi dan steatore, dan penyakit dengan gangguan absorpsi lemak. Penggunaan vitamin E untuk penyakit yang mirip dengan keadaan yang timbul akibat defisiensi vitamin E seperti distrofia otot, abortus habitualis, sterilitas, dan toxemia gravidarum hasilnya mengecewakan (Dewoto 2007).
2.2.3.4 Posologi
Vitamin E tersedia dalam sediaan per oral dan parenteral

2.2.4       Vitamin K
Tahun 1929 Dam mendapatkan pendarahan spontan pada ayam dengan diet yang tidak sempurna. Selanjutnya ternyata pda pendarahan tersebut dapat diatasi dengan memberikan suatu zat yang larut dalam lemak yang diberi nama vitamin K (Koagulation vitamin).
Dikenal 2 jenis vitamin K alam, yaitu vitamin K1 (filokuinon=fitonadion) dan vitamin K2 (senyawa menakuinon), dan 1 jenis vitamin K sintetik. Vitamin K1, yang digunakan untuk pengobatan, teradpat pada kloroplas sayuran berwarna hijau dan buah-buahan. Vitamin K2 disintesis oleh bakteri Garam-posotif. Vitamin K sintetik yaitu vitamin K3 (menadion) merupakan derivat naftokuinon, dengan aktivitas yang mendekati vitamin K alam. Derivatnya yang larut dalam air, menadion natrium difosfat, di dalam tubuh diubah menjadi menadion.
2.2.4.1  Farmakodinamik Obat
Pada orang normal vitamin K tidak mempunyai aktivitas farmakodinamik, tetapi pada penderita defisiensi vitamin K, vitamin ini berguna untuk meningkatkan beberapa faktor pembekuan darah yaitu protombin, faktor VII (prokonvertin), faktor IX (faktor Christmas), dan faktor X (faktor Stuart) yang berlangsung dihati. Mekanisme kerja vitamin K ini masih belum diketahui dengan pasti.
2.2.4.2  Farmkokinetik Obat
Absorbsi vitamin K melalui usus sangat tergantung dari kelarutannya. Absorbsi filokuinon dan menakuinon hanya berlangsung baik bila terdapat garam-garam empedu, sedangkan mendion dan derivatnya yang larut air dapat diarbsobsi walaupun tidak ada empedu. Berbeda dengan filokuinon dan menakuinon yang harus melalui saluran limfe lebih dahulu, menadion dan derivatnya yang larut air dapat langsung masuk ke sirkulasi darah. Vitamin K alam dan sintetik diabsorbsi dengan mudah setelah penyuntikan IM. Bila terdapat gangguan absorbsi vitamin K akan terjadi hipoprotombinemia setelah beberapa minggu, sebab persediaan vitamin K di dalam tubuh hanya sedikit.
2.2.4.3  Indikasi
Vitamin K berguna untuk mencegah atau mengatasi pendarahan akibat defisiensi vitamin K. Defisiensi vitamin K dapat terjadi akibat gangguan absorbsi, berkurangnya bakteri yang mensintesis vitamin K pada usus dan pemakaian anti koagulan tertentu yang dapat mempengaruhi aktivitas vitamin K.
Defisiensi vitamin K akibat asupan yang tidak mencukupi jarang terjadi, karena vitamin K terdapat pada banyak jenis makanan dan juga disintesis oleh bakteri usus. Gangguan absorbsi vitamin K dapat terjadi pada obstruksi biliaris dan gangguan usus seperti sariawan, enteritis, enterokolitis dan reseksi usus. Pemakaian obat seperti antibiotik dan sulfonamid untuk waktu lama dapat mengurangi bakteri yang mensintesis vitamin K di usus.
2.2.4.4  Posologi
Tablet fitoadion (vitamin K1) 5 mg. Emulsi fitonadion yang mengandung 2 atau 10 mg/ml, untuk parenteral. Tablet menadion 2,5; dan 10 mg. Larutan menadion dalam minyak yang mengndung 2, 10, dan 25 mg/ml, untuk pemakain IM. Tablet menadion bisulfit 5 mg. Larutan menadion natrium bisulfit yang mengandung 5 dan 10mg/ml, utnuk pemakaian parenteral. Tablet menadiol natrium difosfat 5 mg. Larutan menadiol natrium difosfat 5 dan 10 mg/ml, untuk pemakaian parenteral.

2.3      Mineral dalam Jumlah Relatif Banyak
2.3.1        Kalsium
Kalsium merupakan mineral yang paling banyak didapatkan di dalam tubuh. Untuk absorpsinya diperlukan vitamin D. Kebutuhan kalsium meningkat pada masa pertumbuhan, selama laktasi dan pada wanita pascamenopause. Bayi yang mendapat susu buatan memerlukan tambahan kalsium. Selain itu asupan kalsium juga perlu ditingkatkan bila makanan banyak mengandung protein atau fosfor. Banyak peneliti yang menganjurkan asupan sekitar 1,2 g/hari untuk pasien alkoholik, sindrom malbsorbsi dan pasien yang mendapat kortikosteroid, isoniazid, tetrasiklin atau antasid yang mengandung aluminium.
2.3.2        Fosfor
Mineral ini terlibat dalam penggunaan vitamin B kompleks di dalam tubuh. Fosfor terdapat pada semua jaringan tubuh dan di dalam tulang dan gigi didapatkan dalam jumlah yang hampir sama dengan kalsium. Fosfor sangat penting sebagai bufer cairan tubuh. Lemak, protein, karbohidrat, dan berbagai enzim yang berperan dalam transfer energi mengandung mineral ini. Makanan dengan komposisi yang baik sudah mengandung fosfor yang cukup. Perbandingan kandungan kalsium dan fosfor dalam makanan dianjurkan 1:1. pada orang dewasa defisiensi umumnya tidak terjadi kecuali pada alkoholisme, pengguanaan antasid yang tidak dapat diabsorbsi utnuk jangka lama, muntah berkepanjangan, pasien penyakit hati atau hiperparatiroidisme.
2.3.3        Magnesium
Magnesium mengaktivasi banyak sistem enzim (misalnya alkali fosfatase, leusin aminopeptidase) dan merupakan kofaktor yang penting pda fosforilasi oksidatif, pengaturan suhu tubuh, kontraktilitas otot dan kepekaan saraf. Pada orang sehat dengan makanan yang bervariasi defisiensi magnesium tergantung pada jumlah protein, kalsium, dan fosfor yang dimakan.
Hipomagnesemia meningkatkan kepekaan saraf dan transmisi neuromuskuler. Pada keadaan defisiensi berat mengakibatkan tetani dan konvulsi. Hipomagnesemia dapat terjadi padapasien alkoholik, kwashiorkor, tetani infantil, diabetes, penyakit ginjal, selama terapi diuretik, pada pasien yang hanya mendapat makanan secara parenteral, pasca bedah.
Hipermagnesemia menyebabkan vasodilatasi perifer dan hilangnya refleks tendon, mempunyai efek seperti kurare pada sambungan saraf-otot dan menghambat pelepasan katekolamin dari kelenjar adrenal. Kegagalan pernapasan dan henti jantung dapat terjadi setelah dosis sangat besar.
2.3.4        Kalium
Perbedaan kadar kalium (kation utama dalam cairan intrasel) dan natrium (kation utama dalam cairan ekstrasel) mengatur kepekaan sel, konduksi impuls saraf dan keseimbangan dan volume cairan tubuh.
Meskipun defisiensi jarang terjadi pada individu yang mendapat makanan yang cukup, hipokalemia dapat terjadi pada anak-anak yang makananya tidak mengandung protein. Penyebab hipokalemia yang paling sering adalah terapi diuretik terutama tiazid. Lain penyebab hipokalemia adalah diare yang berkepanjangan terutama pada anak, hiperaldosterinisme, terapi cairan parenteral yang tidak tepat atau tidak mencukupi, penggunaan kortikosteroid atau laksan jangka lama. Aritmia jantung dan gangguan neuromuskular merupakan akibat hipokalemia yang paling berbahaya.
Hiperkalemia sering disebabkan gangguan ekskresi kalium oleh ginjal yang dapat terjadi pada pasien dengan insufisiensi korteks adrenal, gagal ginjal akut, gagal ginjal kronik terminal, sumplementasi vitamin K yang tidak sesuai dosis atau indikasinya, atau penggunaan antagonis aldosteron. Aritmia jantung dan gangguan konduksi merupakan gejala sisa yang paling berbahaya. Lain manifestasi hiperkalemia termasuk kelemahan parestesia.
2.3.5        Natrium
Natrium penting untuk membantu mempertahankan volume dan keseimbangan cairan tubuh. Kadarnya dalam cairan tubuh diatur oeh mekanisme homeostatik. Banyak ndividu mengkonsumsi natrium melebihi dari yang dibutuhkan. Pembatasan natrium seringkali dianjurkan pada pasien gagal jantung kongestif, sirosis hati dan hipertensi. Asupan yang kurang dari normal yang dimulai sejak masa kanak-kanak dan berlanjut sampai dewasa dapat membantu pencegahan hipertensi pada individu tertentu. Akan tetapi pembatasan natrium pada wanita sehat selama kehamian tidak dianjurkan.
Hipernatremia jarang ditemui pada individu sehat tetapi dapat terjadi setelah diare atau muntah yang lama terutama pada bayi, pada gangguan ginjal, fibrosis kistik atau insufisiensi korteks adrenal, atau pada penggunaan diuretik tiazid. Keringat yang berlebihan dapat mengakibatkan kehilangan natrium yang banyak dan perlu diganti dalam bentuk air dan NaCl.
2.3.6        Klorida
Klorida merupakan anion yang paing penting dalam mempertahankan keseimbangan elektrolit. Alkalosis metabolik hipokloremik dapat terjadi setelah muntah yang lama atau penggunaan diuretik berlebihan. Kehilangan klorida berlebihan dapat menyertai kehilangan natrium berlebih. Kemungkinan terjadinya hiperkalemia perlu dipertimbangkan bila terpaksa menggunakan KCl sebagai pengganti klorida yang hilang.
2.3.7        Sulfur
Beberapa asam amino, tiamin dan biotin mengandung sulfur. Meskipun sulfur esensial untuk manusia fungsinya yang tepat selain sebagai komponen tersebut diatas tidak diketahui. Demikian pula sampai saat ini belum diketahui kebutuhannya perhari.
2.4      Nutrisi Parenteral
Nutrisi seperti halnya oksigen dan cairan senantiasa dibutuhkan oleh tubuh. Penderita yang tidak dapat makan atau tidak boleh makan harus tetap mendapat masukan nutrisi melalui cara enteral (pipa nasogastrik) atau cara parentral (intravena). Nutrisi parenteral tidak menggantikan fungsi alamiah usus, karena itu hanya merupakan jalan pintas sementara sampai usus berfungsi normal kembali 1. Tehnik nutrisi parenteral memang tidak mudah dan penuh liku-liku masaalah biokimia dan fisiologi. Juga harga relatif mahal tetapi jika digunakan dengan benar pada penderita yang tepat, pada akhirnya akan dapat dihemat lebih banyak biaya yang semestinya keluar untuk antibiotik dan waktu tinggal dirumah sakit .Contoh kesalahan yang masih banyak ditemukan di rumah sakit yaitu Pemberian protein tanpa kalori karbohidrat yang cukup dan Pemberian cairan melalui vena perifer dimana osmolaritas cairan tersebut lebih dari 900 m Osmol yang seharusnya melalui vena sentral.1,2 Jika krisis katabolisme kecil sedang tubuh mempunyai cukup cadangan tidak timbul masalah apapun. Penderita dewasa mudah sehat dengan status gisi yang baik, dapat menjalani pembedahan, puasa 5 - 7 hari setelah operasi sembuh dan pulang dengan selamat hanya dengan kerugian penurunana berat badan. Tetapi pada kenyataannya lebih banyak penderita yang kondisi awalnya sudah jelek ( berat bdan kurang, kadar albumin < 3,5 gr/dl), untuk penderita ini puasa puasa pasca bedah / pasca trauma 5 - 7 hari hanya mendapat infus elektrolit sudah cukup untuk mencetuskan hipoalbuminemia, hambatan penyenbuhan luka, penurunan daya tahan tubuh sehingga infeksi mudah menyebar. Sehingga banyak diantara penderita pasca bedah laparotomi karena perforasi ileum ( typhus abdominalis ) , invaginasi , volvulus, atau hernia inkarserata kemudian mengalami kebocoran jahitan usus yang menyebabkan peritonitis atau enterofistula ke kulit . Dengan bantuan nutrisi yang baik penyulit-penyulit fatal ini dapat dihindari. 1,3,3,4,5
~ KEBUTUHAN CAIRAN
Kebutuhan cairan penderita dewasa pada umumnya sekitar 30-50ml / KgBB / hari, apabila oligouria cairan yang diperlukan 500 - 600 ml ditambah produksi urine perhari.untuk orang dewasa ( Berat badan 60 kg ) 5,6.
~ KEBUTUHAN ENERGI
Energi expanditure harus dihitung agar keseimbangan nitrogen yang lebih baik dapat dicapai dan dipertahankan. Metode yang digunakan untuk menghitung kebutuhan energi ada dua cara yaitu dengan rumus Harris-Benedict dan indirect-calorimetry dengan expired gas analysis 2,5,6,7.
Harris-Benedict mengkalkulasikan kebutuhan energy seseorang dalam keadaan istirahat, nonstres, setelah puasa overnigt. Pada keadaan metabolic-stress, maka harus dikalikan stress faktor.
Rumus Harris
- Benedict.
Pr. BEE = 665 + 9,6 BB + 1,7 TB
- 4,7 U
Lk BEE = 66 + 13,7 BB + 5 TB
- 6,6 U
BEE = K cal/ hari BB: kg TB: cm U ; Thn
Perhitungan diatas mungkin sulit diaplikasikan maka untuk penggunaan klinis sehari-hari nilai BEE = 25
- 30 k cal/Kg/hari tidak jauh berbeda dengan nlai yang didapat bila kita menggunakan rumus Harris Benedict 1,5,6,7,8..
Indirect-calorimetry.
Walaupun memberi hasil yang lebih akurat tetapi oleh karena membutuhkan pemeriksaan laboratorium, teknologi dan mahal maka jarang digunakan untuk perhitungan sehari-hari.

~ KARBOHIDRAT SEBAGAI SUMBER ENERGI
Beberapa jenis karbohidrat yang lazim menjadi sumber energi dengan perbedaan jalur metabolismenya adalah : glukosa, fruktosa, sorbitokl, maltose, xylitol 3,4,7.
Tidak seperti glukosa maka, bahwa maltosa ,fruktosa ,sarbitol dan xylitol untuk menembus dinding sel tidak memerlukan insulin. Maltosa meskipun tidak memerlukan insulin untuk masuk sel , tetapi proses intraselluler mutlak masih memerlukannya sehingga maltose masih memerlukan insulin untuk proses intrasel. Demikian pula pemberian fruktosa yang berlebihan akan berakibat kurang baik.
Oleh karena itu perlu diketahui dosis aman dari masing-masing karbohidrat :
- Glikosa ( Dektrose ) : 6 gram / KgBB /Hari.
- Fruktosa / Sarbitol : 3 gram / Kg BB/hari.
- Xylitol / maltose : 1,5 gram ?kgBB /hari.
Campuran GFX ( Glukosa ,Gfruktosa, Xylitol ) yang ideal secara metabolik adalah dengan perbandingan GEX = 4:2:1 3,4,10,11,12.

~ KONSEP YANG PERLU DISAMAKAN PADA PARENTERAL NUTRISI
1.Menggunakan vena perifer untuk cairan pekat.
Osmolritas plasma 300 mOsmol . Vena perifer dapat menerima sampai maksimal 900 mOsmol . Makin tinggi osmolaritas (makin hipertonis) maka makin mudah terjadi tromphlebitis, bahkan tromboembli. Untuk cairan > 900 - 1000 mOsm, seharusnya
digunakan vena setrral (vena cava, subclavia, jugularis) dimana aliran darah besar dan cepat dapat mengencerkan tetesan cairan NPE yang pekat hingga tidak dapat sempat merusak dinding vena. Jika tidak tersedia kanula vena sentral maka sebaiknya dipilih dosis rendah (larutan encer) lewat vena perifer, dengan demikian sebaiknya sebelum memberikan cairan NPE harus memeriksa tekanan osmolaritas cairan tersebut ( tercatat disetiap botol cairan ) Vena kaki tidak boleh dipakai karena sangat mudah deep vein trombosis dengan resiko teromboemboli yang tinggi.
2. Memberikan protein tanpa kalori karbohidrat yang cukup.
Sumber kalori yang utama dan harus selalu ada adalah dektrose. Otak dan eritrosit mutlak memerlukan glukosa setiap saat. Jika tidak tersedia terjadi gluneogenesis dari subtrat lain. Kalori mutlak dicukupi lebih dulu. Diperlukan deksrose 6 gram /kg.hari (300 gr) untuk kebutuhan energi basal 25 kcal/kg. Asam amino dibutuhkan untuk regenerasi sel, sintesis ensim dan viseral protein. Tetapi pemberian asam amino harus dilindungi kalori, agar asam amino tersebut tidak dibakar menjadi energi (glukoneogenesis) Tiap gram Nitrogen harus dilindungi 150 kcal berupa karbohidrat. Satu gram Nitrogen setara 6,25 gram protetin. Protein 50 gr memerlukan ( 50 : 6,25 ) x 150 k cal = 1200 kcal atau 300 gram karbohidrat. Kalori dari asam amino itu sendiri tidak ikut dalam perhitungan kebutuhan kalori .1
- Jangan memberikan asam amino jika kebutuhan kalori belum dipenuhi - 4,5,6,7,8.
3.Tidak melakukan perawatan aseptik.
Penyulit trombplebitis karena iritasi vena sering diikuti radang/ infeksi. Prevalensi infeksi berkisar antara 2-30 % Kuman sering ditemukan adalah flora kulit yang terbawa masuk pada penyulit atau ganti penutup luka infus 1,6,7,8,.

~ PENGHENTIAN NUTRISI PARENTERAL
Penghentian nutrisi parentral harus dilakukan dengan cara bertahap untuk mencegah terjadinya rebound hipoglkemia. Cara yang kami anjurkan adalah melangkah mundur menuju regimen hari pertama. Sementrara nutrisi enteral dinaikkan kandungan subtratnya. Sesudah tercapai nutrisi enteral yang adekuat (2/3 dari jumlah kebutuhan energi total) nutrisi enteral baru dapat dihentikan.6,7,8,9,10.

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Bukan cuma kekurangan yang bisa menimbulkan dampak negatif, tetapi kelebihan vitamin dan mineral juga tak baik bagi tumbuh-kembang tubuh. Terdapat 2 macam golongan vitamin dalam dunia kesehatan yaitu vitamin yang dapat larut dalam air dan vitamin yang dapat larut dalam lemak. Disamping hal tersebut mineral juga berperan penting dalam tubuh kita. Mineral merupakan suatu zat yang berguna untuk tubuh kita.
Nutrisi parenteral tidak bertujuan menggantikan kedudukan nutrisi enteral lewat usus yang normal. Segera jika usus sudah berfungsi kembali, perlu segera dimulai nasogastric feeding, dengan sediaan nutrisi enteral yang mudah dicerna.
Nutrisi parenteral dapat diberikan dengan aman jika megikuti pedoman diatas. Karena tubuh penderita perlu waktu adapatasi terhadap perubahan mekanisme baru maka selama penyesuaian tersebut jangan memberi beban yang berlebihan:
- START SLOW GO SLOW- OBSERVE CAREFULLY, TREAT IMMEDIATELY-
Perbaikan dari komposisi subtrat nutrisi, perbaikan tehnik, pengetahuan, skala prioritas dalam support metabolik dan bedside monitor, dibutuhkan untuk mencapai recovery yang maksimal.
Saat ini ditemukan immunonutrition yang bertujuan untuk meningkatkan immune respons pada pasien-pasien critical ill agar supaya outcome klinis dapat diperbaiki dan lama rawat rumah sakit dapat diturunkan seperti arginine, glutamine, glycine, (golongan asam amino),fatty acids, nucleotide.





DAFTAR PUSTAKA


1. Rahardjo. E : Dukungan Kombinasi Nutrisi Enteral-Parenteral, 2nd Symposium Life Support & Critical Care on Trauma & Emergency Patients. Surabaya. 2002.
3. Mardjono Mahar: Farmakologi dan Terapi. edisi 4. Gaya Baru, Jakarta. 1998.
4. http://artikel-kesehatan.blogspot.com/konsep-dasar-nutrisi-parenteral.html.

or >>> http://www.4shared.com/office/3EvjZM8x/makalah_farma.html?
dont forget to give ur comment...^^ thanks.. :)